Gandrung, kesenian khas Banyuwangi

By in Artikel, Budaya, Komunitas, Pendidikan, Wisata on May 2, 2013

g-land-gandrung-banyuwangi-dance-1024x7891

Pernah mendengar kata Gandrung ? Kalau kata orang Jawa, Gandrung bisa diidentikkan dengan kata suka, senang, menggilai kalau lebih heboh lagi, bisa juga diartikan terpesona. Terpesona akan apa ? Jika dihubungkan dengan Tari Gandrung yang merupakan tarian khas Banyuwangi, masyarakat Blambangan yang agraris tersebut terpesona akan Dewi Sri yang merupakan Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat daerah itu.

Tarian Gandrung Banyuwangi ini dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen. Melibatkan seorang penari wanita yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan). Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali. Seperti yang kita tahu Banyuwangi dekat dengan pulau Bali, sehingga walaupun secara geografis Banyuwangi bagian dari Jawa Timur, hal tersebut mempengaruhi budaya yang ada di sana. Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan “paju”.

Dalam perkembangannya, Gandrung tidak hanya dilakukan setelah panen dilakukan, sering juga tarian ini dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).

Jangan salah, kesenian ini masih tegar dalam menghadapi gempuran arus globalisasi,  dengan cara mempopulerkannya melalui media elektronik dan media cetak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun bahkan mulai mewajibkan setiap siswanya dari SD hingga SMA untuk mengikuti ekstrakurikuler kesenian Banyuwangi. Salah satu di antaranya diwajibkan mempelajari tari Jejer yang merupakan sempalan dari pertunjukan Gandrung Banyuwangi. Hal ini merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah setempat terhadap seni budaya lokal yang sebenarnya sudah mulai terdesak oleh pentas-pentas populer lain seperti dangdut dan campursari.

Sejak tahun 2000, antusiasme seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan meningkat. Gandrung, dalam pandangan kelompok ini adalah kesenian yang mengandung nilai-nilai historis komunitas Osing yang terus-menerus tertekan secara struktural maupun kultural. Dengan kata lain, Gandrung adalah bentuk perlawanan kebudayaan daerah masyarakat Osing.

Namun sayangnya, penari gandrung tidak pernah lepas dari prasangka atau citra negatif di tengah masyarakat luas. Beberapa kelompok sosial tertentu, terutama kaum santri menilai bahwa penari Gandrung adalah perempuan yang berprofesi amat negatif dan mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, tersudut, terpinggirkan dan bahkan terdiskriminasi dalam kehidupan sehari-hari.

Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan musik gamelan yang khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa dan telah menjadi ciri khas daerah ini, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan Gandrung. Hal tersebut yang membuat Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan hampir di setiap sudut wilayah Banyuwangi dihiasi patung penari Gandrung. Sejak Desember 2000, tari Gandrung memang resmi menjadi maskot pariwisata Banyuwangi yang disusul pematungan gandrung terpajang di berbagai sudut kota dan desa itu tadi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga memprakarsai promosi gandrung untuk dipentaskan di beberapa tempat seperti Surabaya , Jakarta , Hongkong, dan beberapa kota di dunia seperti di Amerika Serikat.

Sumber : Wikipedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>